Wednesday, July 6, 2011

Reparasi TV



Mereparasi TV Berwarna

Mereparasi TV berwarna membutuhkan pengetahuan yang memadai, Anda harus pernah memiliki pengalaman di dalam menggunakan alat ukur dan membongkar perangkat elektronika. Terlebih dahulu Anda juga harus sudah memahami konsep elektronika dasar .

1.Mengecek Power Supply

Percayalah, 70% kerusakan pada TV dapat dengan mudah dilacak mulai dari Power Supply TV tersebut, karena keluaran dari power supply tersebut terhubung ke bagian yang sering rusak, antara lain penguat horizontal, flyback dan suara. Berikut langkah-langkah reparasi power supply dan troubleshooting:

1. Kalau TV mati, cek kabel AC apakah putus atau tidak menggunakan multitester. Jika tidak putus, cek tegangan di PCB, jika tidak ada periksa fuse

2. Jika ada tegangan, ukur tegangan keluaran dari dioda bridge ke kapasitor, tegangan harus ada sekitar 300V DC, jika tidak ada berarti dioda bridge rusak/putus. Dioda bridge dapat dites dengan mencopot terelbih dahulu, lalu diukur nilai hambatan pada diode tersebut dengan polaritas pengukuran dibolak balik.

3. Ukur transistor FET sebagai penguat catu daya, atau bisa dari STR seperti STR F6654. Ukur basis harus ada sekitar 0.5-1V AC. Kalau bagus berarti kemungkinan trafo converternya rusak. Kerusakan trafo dapat diganti dengan pesan ke teknisi untuk gulung ulang. Umumnya merek standar ada gantinya.

4. Ukur gulungan sekunder di B+ harus ada 115V DC untuk menggerakann flyback, ciri lain transistor horizontal ialah adanya kapasitor 160V. TV Sekarang kalau mati penyebabnya tidak harus power supply, tetapi horizontal juga bisa.

5. Kerusakan transistor horizontal pada TV tertentu ditandai dengan lampu pilot/standby. TV sekarang juga ada sumber catu daya dari flyback.

6. Ukur transistor penguat horizontal di kolektor. Lalu ukur lagi di basis. Basis harus ada 0.5-1VAC dari osilator. Kalau ada tapi mati bisa jadi transistor horizontal rusak. Kalau transistor bagus tapi masih mati, kemungkinan flyback rusak. Tegangan 115 Vjuga buat flyback. Jika masih mati padahal tegangan betul, maka copot transitornya ukur transistor tsb, biasanya transistornya shorted.

7. Ukur flyback dengan cara flyback dilepas ukur gulungan flyback dari B+ terhadap ground flyback, flyback yang bagus harus tidak shorted.

8. Output trafo converter buat rangkaian horizontal sebesar 115V DC, suara, 24V buat vetikal(tv tertentu ada yang 12V ganda simetris), dan 12V buat catu daya umum.

9. Jika cuma garis horizontal yang tampil , yang rusak ialah bagian penguat vertikal. Ukur catu daya 24V vertical tadi. Ukur elco di IC vertikal tersebut, misal TA8403. Ukur juga dioda dan resistor juga. Kalau bagus juga kemungkinan IC nya rusak, atau ada resistor daya yang putus. Ukur yoke harus ada tahanan, dan kabelnya terpasang dengan benar. Kalau tidak kemungkian osilator buat vertical tidak bekerja. IC osilator contohnya Toshiba TB 1238AN, LA76818A dan TDA9351PS. Ada juga yang komplit dengan IC program contoh IC Toshiba 8803CPANG

Mengukur Suara

1. Mengukur suara, urut dari speaker, soket, pasti ada IC yang pakai pendingin,itu adalah IC suara, namun chassis murah jug ada yang IC amplifiernya sudahterpaket dalam IC TV utamanya. Ukur speakernya dulu apakah short .

2. Ukur catu daya 12-20V DC. Jika bagus, berarti Cek IC osilatornya. Contoh ic suara Toshiba TA8256BH.

3. Untuk menyatukan warna, putar konvergen, yang dapat mengatur horizontal,vertical, dan magnet puritas.

Mengecek IC Program

1. Ceklah IC program seperti IC 87CM38 dan 24C04, untuk bagian setingnya mulai dari menu, fitur dll.

2. Jika tidak ada gambar, tetapi raster (bintik –bintik) ada, periksa antena. Apakah sudah diisi belum channelnya. Jika tidak dapat menangkap siaran, bisa jadi tunernya yang rusak (umumnya 8 kaki).

3. Jika sinyal Video AV tidak tampil, bisa jadi IC switch AV rusak, contohnya HCF4052B.

Mengecek Tampilan TV

1. Jika TV gelap , suara ada, periksa soket CRT, periksa juga heater di kaki 3 dan 4 pada tabung besar harus ada tegangan3-5v AC. Periksa juga Grid 2 di flyback, ukurlah, harus ada 400V DC.

2. Jika ada gambar ada tapi tidak berwarna, maka periksa khroma dengan mengganti Kristal 4.45 MHz. Jika masih tetap juga coba ganti IC osilatornya. Pada motherboard TV, biasa terdapat PTC untuk menghilangkan medan magnet, kalau tidak nanti warna belang belang. Untuk mengatur warna RGB, terdapat penguat video RGB, jika rusak bisa jadi cirinya satu warna hilang. Jika bagus, bisa jadi IC osilatornya rusak.

Trik cerdas mereparasi TV Berwarna:

1. Jika TV mati, ukur langsung ke transistor daya dan Transistor horizontal, langsung copot tranasitornya, terus ukur. Jika ternyata transitor kaki kolektornya dilepas, terdapat tegangan normal, besar kemungkinan transistornya shorted.

2. Jika suara mati sentuh kaki input amplifier, jika tidak bunyi beep kencang, besar kemungkinan IC amplifiernya jebol, jika bunyi beep kencang, bisa jadi IC osilatornya atau tuner rusak.

Friday, April 29, 2011

Thursday, April 21, 2011

Tugas Merangkum Artikel for 25 april 2011 ( 2 Elka )

Buat Rangkuman artikel Tentang Microfon dibawah ini :

Mikrofon


Mikrofon berfungsi untuk merubah suara menjadi energi listrik. Ada beberapa jenis dari mikrofon yang di kelompokkan menurut bentuk sensitivitas suara (omnidireksional, cardioid, bedil, dsb.), dan ditentukan oleh cara untuk merubah suara menjadi listrik. Seperti halnya instrumen musik, jenis dan model mikrofon yang berbeda mempunyai ciri-ciri yang berbeda pula.

Untuk pengumuman di studio, umumnya stasiun radio mempergunakan mikrofon “cardioid” yang mempunyai kepekaan terbatas pada lingkup ruang yang ada di depan mikrofon dalam jarak dekat. Sehingga membuatnya tidak peka terhadap suara-suara dibagian lain studio. Kepala mikrofon macam ini sering dibungkus dengan plastik busa (foam) untuk mengurangi suara letupan pada huruf “p” serta bunyi desis pada huruf “s”, dan sebagainya.

Mikrofon direksional sangat peka terhadap volume udara berbentuk contong (cone). Lebar contong ini menentukan arah penerimaannya. Mikrofon jenis ini dipakai di studio untuk keperluan wawancara dan diskusi panel. Apabila mikrofon semacam ini cukup kuat maka kita dapat memakainya diluar studio dan sifat direksionalnya akan membantu mengurangi kebisingan dari lingkungan sekitarnya. Pada jarak dekat mikrofon seperti ini umumnya sangat peka terhadap suara-suara dengan frekwensi rendah. Banyak penyiar yang memanfaatkan kelebihan mikrofon ini untuk membuat suara mereka terdengar lebih dalam dan lebih akrab.

Mikrofon jenis profesional bervariasi harganya dari ratusan dollar sampai ribuan dollar. Jenis yang mahal umumnya jenis “condenser” yang menangkap dan menghasilkan suara-suara rinci dengan baik sehingga sering dipakai untuk merekam musik-musik klasik. Jenis Mikrofon macam ini yang sangat dihargai adalah buatan Neumann dan AKG. AKG model C414B saat ini merupakan model kesayangan di stasiun-stasiun radio Amerika. Sebuah tombol dibagian bawahnya dapat mengatur penangkapan untuk 4 jenis pola reaksi ruangan yang berbeda: cardioid, hypercardioid, direksional dan direksional ganda.
Masalah dengan mikrofon kondenser adalah harganya yang mahal dan konsumsi tenaga listriknya yang cukup tinggi. Tenaga listriknya berasal dari batrei yang ada di dalam mikrofon (yang harus diganti setelah dipakai beberapa ratus jam), atau dari sumber listrik eksternal (sampai 48 V, yang biasanya disalurkan lewat kabel mikrofon).
Beberapa jenis mixer memang sudah dirancang untuk menyediakan “tenaga phantom” yang diperlukan oleh mikrofon kondenser ini. Akan tetapi beberapa jenis mikrofon kondenser buatan Eropa memakai sistem berbeda yang disebut tenaga “A-B” atau “T” yang tidak kompatibel dengan tenaga phantom. Apabila kita bermaksud menggunakan mikrofon kondensor pertama kali harus kita ketahui jenis daya/tenaga yang dipakainya. Kemudian kita harus berkonsultasi dengan pemasok konsol mixer kita untuk mengetahui apakai daya jenis itu dapat disediakan oleh mixer kita atau bisa diadakan secara opsional dan berapa harganya.

Mikrofon dinamis berharga lebih murah dan tidak membutuhkan tenaga listrik: energi suara sudah mencukupi untuk menggerakkan outputnya. Mikrofon jenis ini tidaklah sepeka mikrofon kondenser, akan tetapi pemeliharaan mikrofon jenis ini lebih mudah dan cukup memadai untuk pembicaraan. Merek-merek yang terkenal untuk mikrofon jenis ini di stasiun-stasiun radio Amerika meliputi: AKG, Electro-Voice, Sennheiser dan Shure. Mikrofon dinamis Electro Voice tipe RE 20 merupakan jenis yang paling banyak dipakai. Model MD421 juga merupakan jenis yang sangat dihargai.
Ketika kita mengumpulkan berita di luar studio maka beberapa jenis suara di lingkungan tempat wawancara kita diperlukan untuk memberikan kesan keaslian dan keberadaan kita ditempat tersebut. Untuk tujuan tersebut beberapa jurnalis menggunakanmikrofon direksional, direksional ganda atau omnidireksional, karena mikrofon jenis ini tidak mengisolir suara pembicara seperti halnya mikrofon cardioid. Mikrofon bentuk bedil (shotgun) dirancang untuk mengambil suara jarak jauh. Beberapa mikrofon lapangan mempunyai tombol dipegangannya atau dilengkapi dengan beberapa kapsul untuk merubah tangkapan ruangnya.
Mikrofon lapangan harus kuat untuk dibawa kemana-mana bahkan tidak rusak kalau jatuh. Mikrofon Beyer model 58 diakui oleh banyak orang sebagai mikrofon pegangan omnidireksional yang mempunyai hasil suara paling baik. Mikrofon Electro-Voice model RE50, 635A dan DO56 juga merupakan tipe yang populer. Jenis-jenis ini mudah dibawa dan bebas gangguan suara angin dan tidak mudah rusak.
Mikrofon dirancang untuk mengumpulkan dan menyiarkan berita mempunyai impedansi yang rendah (50-600 ohms). Sebaliknya mikrofon dengan “impedansi tinggi” dipakai dalam acara-acara publik seperti konser, kampanye politik yang menggunakan loudspeaker yang besar-besar. Mikrofon dengan impedansi tinggi tidak dapat dipakai dengan perlengkapan siaran standar tanpa memakai adaptor. Kalau kita pakai mikrofon jenis ini dengan adaptor untuk siaran maka kabelnya harus pendek dan terbungkus dengan baik serta mempunyai grounding yang baik untuk menghindari suara balik atau suling dan hilangnya frekwensi audio yang tinggi. Jadi lebih baik untuk hanya memakai mikrofon dengan impedansi rendah untuk perekaman dan penyiaran.




Mengidentifikasi, menempatkan dan mendemontrasikan desain mikrofon


1. Hand Held mic
Hand Microphone : Yaitu microphone yang digunakan oleh pengisi acara dengan cara dipegang oleh tangan.




2. Personal mic/clip on
Jenis mikrofone yang bentuknya kecil dengan posisi pemakaian mic dipasangkan pada baju atau kostum pengisi acara. Bisa dengan cara dijepitkan ataupun dengan cara ditempel.



3. Boundary effect mic
Boundary mic itu microphone yang bentuknya pipih, biasa diletakkan di lantai untuk menangkap suara2 dialog di panggung. Orang Indonesia nyebutnya 'mic kodok', karena emang nongkrong kaya kodok hehehe




4. Shotgun mic
Shoygun: jenis mikrofone yang paling terarah. Berbentuk stik dengan sensivitas yang tinggi.



5. Contact mic
Contact mic adalah alat untuk mendengar percakapan dari balik dinding ruangan tanpa harus memasang pemancar pada ruang yang dimonitor. Mampu menembus halangan dinding padat(concrete).



6. Studio mic
mic jenis ini cocok sekali untuk orang yang akan masuk ke dalam dunia recording. Atau biasanya terdapat dalam Studio recording.





7. Omnidirectional mic
Omni Directional : Microphone yang dapat menerima suara dari semua arah.




8. Bi-Directional mic
Bi Directional : Microphone yang mencegah suara dari samping, tapi sangat peka pada arah depan dan belakang.





9. Unidirectional mic
Uni Directional : Microphone yang menerima suara hanya dari satu arah saja.



10.Microfon NIRKABEL

Microphone nirkabel yakni microphone yang koneksinya tidak menggunakan kabel. Mentransmisikan sinyalnya menggunakan pemancar radio FM kecil yang terhubung kepada receivernya dalam satu sound system.



Dibawah ini contoh produk yang beredar dipasaran antara lain :
AKG Perception 420, Mikrofon Kondenser



AKG meluncurkan mikrofon kondenser seri Perception 420 yang menjadi pilihan bagi pengelola studio rekaman kelas profesional, panggung, hingga home recording.

AKG Perception 420 diperkuat dengan 3 jenis polar pattern, yaitu cardioid, omnidirectional, dan figure eight, bisa kita manfaatkan untuk merekam beberapa jenis sumber suara. Di antaranya adalah ensembel orkestra, perkusi, ambien, grand piano, dan XY stereo recording.

Tampak bodi mikrofon cukup kokoh yang ditutup dengan bahan logam yang bisa menolak gangguan sinyal RF (alat komunikasi). AKG Perception 420 mempunyai diafragma berukuran 1 inchi dan SPL maksimal 155 dB sehingga bisa meng-cover sumber suara yang memiliki gain besar, seperti ensembel orkestra dan ambien ruang drum.

Vokal
Pada saat uji coba, kami merekam vokal pria dengan menggunakan konverter AD/D A Lexicon U82S dan preamp internalnya. Headroom bisa didapat dengan sempurna. Sinyal vokal yang memiliki power akan menjadi lebih menguntungkan karena kami mendapatkan sinyal cukup maksimal ketika kami rekam. Karakter gain Perception yang kami peroleh cukup besar.

Mikrofon kondenser dengan harga yang relatif terjangkau ini memiliki peran banyak untuk meng-cover sumber suara vokal. Kami mendapatkan tone yang cukup spesifik. Artinya, sumber suara dapat di-cover cukup detail. Apalagi area frekuensi mid-low pada track vokal yang kami rekam hasilnya cukup warm. Pada sesi merekam vokal, kami mengaktifkan fitur Bass cut filter (12 dB per oktaf, frekuensi 300 Hz). Sehingga area frekuensi mid lebih fokus dan yang terpenting tidak menghasilkan kolorasi suara. Perception 420 dapat bekerja sangat baik dan transparan. Kami mendapatkan sinyal vokal sesuai kebutuhan industri tak kalah dengan mikrofon kondenser profesional di kelasnya. Track vokal yang kami rekam cukup musikal dan tidak ada frekuensi tinggi yang berlebih, sehingga menguatkan area frekuensi vokal menjadi lebih solid dan renyah.

Bagi pengguna home recording, tentu peranti ini dapat dimanfaatkan lebih maksimal. Dengan fitur multi pattern, Anda dapat memanfaatkan unit ini untuk berbagai kebutuhan rekaman. Sebut saja untuk merekam ambien ruang Perception 420 dapat diatur pada posisi omni directional. Selain itu, kita bisa memanfaatkan Perception 420 untuk merekam overhead drum atau merekam dua sumber suara (vokal) secara bersamaan dengan mengatur posisi polar pattern pada Figure 8.


Shure Beta 98, Mikrofon Kondenser Mini



Shure Beta 98 mikrofon kondenser aplikasi rekaman dan panggung untuk instrumen drum, gesek, tiup dan instrumen akustik lainnya.

Mikrofon ini memiliki bentuk mini dan hanya memiliki bobot seberat 12 gram namun memiliki kemampuan besar. Pada paketan Shure Beta 98 juga menyertakan mount 98D yang bisa dipasangkan pada drum shel.

Top Snare
Shure Beta 98 yang dikirim ke studio A-Pro kami uji untuk merekam instrumen drum, khususnya snare drum. Pada sesi ini, kami mencoba menangkap top dan bottom snare. Untuk merekam snare drum ini, kami memasangkan drum mount 98D pada posisi tertentu. Pada posisi top snare, kapsul mikrofon Beta 98 yang berpolar pattern cardioid dihadapkan ke permukaan snare berjarak sekitar tiga centimeter. Mikrofon ini mampu meng-cover sinyal yang memiliki gain besar berasal dari top snare yang dimainkan dengan powerful. Meskipun memiliki ukuran mini, Shure Beta 98 mampu memberikan performa yang maksimal dan mengagumkan. Pada review ini, karakter tonal head snare dapat tertangkap sangat jelas. Apalagi mikrofon ini cukup sensitif sehingga sound detail bisa di-capture dengan baik. Resonansi snare drum juga direpro dengan sempurna. Karakter sound snare yang maksimal ini sangat memudahkan sound engineer mendapatkan track snare yang dibutuhkan. Selanjutnya, Anda dapat memutuskan perlu atau tidak melakukan proses EQ pada track snare ini.

Bottom Snare
Shure Beta 98 juga bekerja optimal untuk menangkap bottom snare. Kami mendapatkan karakter snare drum sangat terang dan tidak berlebihan. Sound snare ini yang didapat bisa dimanfaatkan untuk jenis musik berbagai genre, seperti aransemen yang berdinamika tinggi (rock, fusion, heavy metal) hingga jenis musik pop. Track top dan bottom snare dapat kami seimbangkan dengan leluasa sesuai kebutuhan aransemen musik. Pada track snare ini, kami mendapatkan sound yang akurat, tebal dan terang. Tidak mengecewakan!

Mikrofon ini juga dapat dimanfaatkan untuk meng-cover komponen drum lainnya, seperti tom dan floor tom. Pada sesi merekam floor tom, kami masih mendapatkan gain yang kuat dan frekuensi rendah yang baik. Kami juga menyukai memanfaatkan Beta 98 untuk track floor tom. Karakter sound ini dapat kita eksplorasi mulai dari posisi mikrofon hingga set EQ sesuai kebutuhan.


Rode M1 Mikrofon Dynamic



Rode M1 dirancang sebagai mikrofon vokal untuk live performance yang memiliki karakter tone yang cukup bagus.

Rode M1 jenis mikrofon dynamic yang berbalur warna hitam ini, ditujukan untuk aplikasi vokal kebutuhan panggung. Bodi mikrofon yang terbuat bahan logam yang kuat sebagai pelindung yang sangat baik. Sedangkan konektor XLR terbuat dari lapisan emas sehingga bisa memperkuat umur konektor ketika dihadapi dengan kondisi iklim. Produsen yang berbasis di Australia ini berupaya merancang M1 sebagai mikrofon kokoh yang memiliki daya tahan terhadap berbagai kondisi cuaca. Bobot mikrofon yang seberat 360 gram setara dengan bobot mikrofon profesional jenis dynamic lainnya, sangat nyaman digenggam.

Powerful
Karakter mikrofon dengan polar pattern cardioid mampu menghasilkan gain yang optimal. Rode M1 mampu menunjukkan performa sound vokal pria saat kami uji di dalam studio A-Pro dengan menggunakan Sistem PA portabel. Karakter vokal yang direpro oleh Rode M1, kami terima cukup jelas dan powerful. Respon frekuensi antara 75 Hz hingga 18 kHz memiliki karakter frekuensi area vokal (pria) lebih tebal. Frekuensi bass yang kami terima juga tidak berlebihan sehingga akurasi vokal masih terdengar. Selain itu, vokal menjadi lebih terang dan lebih fokus karena dikuatkan oleh area frekuensi tengah yang smooth. Karakter vokal ini bisa dimanfaatkan sebagai mikrofon vokal latar, vokal utama atau pembawa acara.

Tone
Kami juga menambah fitur efek reverb dari mixer yang kami gunakan. Efek reverb untuk vokal kami set hampir lima puluh persen sesuai kebutuhan ketika dimanfaatkan untuk solo vokal diiringi aransemen musik sequencing. Pada sesi menggunakan efek reverb, performa sound vokal semakin terdengar solid. Meskipun efek reverb relatif berlebih, kami masih mendapatkan gain vokal yang baik. Dan yang terpenting kami bisa mendapatkan tone vokal yang kuat sehingga masih akurat. Hal ini dapat dimanfaatkan untuk keperluan vokal utama pada iringan musik keyboard solo atau organ tunggal (OT).

Friday, April 8, 2011

Instalasi Sound System

Instalasi Sound System

Karena saat kita nonton pertunjukan musik, kita tidak hanya melihat si pemusik saja tapi juga mendengarkan suara yang dihasilkan oleh system tata suaranya. Memang tidak dipungkiri lagi bahwa sisi ini memang sangat menarik untuk dibahas, setidaknya bagi anda yang penasaran dengan system audio profesional.

Prinsip Dasar
Sound reinfocement adalah sederetan peralatan yang ditata sedemikia rupa untuk penguatan suara atau musik untuk didengarkan oleh banyak orang. Prinsip dasarnya selalu sama. Mulai dari system yang sederhana samapi yang paling rumit seperti :
1. Suara ditangkap oleh microphone dari sumbernya.
2. Microphone merubah suara tadi menjadi signal listrik dan mengiimnya melalui kabel menuju mixer.
3. Mixer menerima signal suara dan musik tadi melalui setiap kanalnya kemudian me-mix (mencampur dan menseimbangkan) untuk dikirimkan lagi melalui kabel ke rampaian power amplifier.
4. Power amplifier merubah signal menjadi energi listrik dan mengirimkannya ke loudspeaker
5. Loudspeaker merubah energi listrik menjadi gerakan mekanis dari konus speaker yang kmudian mnggetarkan udara dan menjadi suara.
6. Audiens mendengarkan suara tersebut.

Ini juga berlaku untuk system audio rumah, tape deck atau CD player sebagai sumber suara, dan pre amp (dalam system live digantikan mixer), umumnya terdapat dalam satu badan dengan power amplifiernya (integrated amlifier).
Dalam system sederhana, power amplifier kadang terdapat dalam satu kemasan dengan mixer yang disebut powe mixer, atau juga power amplifier yang tercakup dalam kotak speaker yang lebih kita kenal dengan speaker aktif. Namun betapapun besar dan rumitnya sebuah system, tetap akan berada pada prinsip diatas tadi seperti yang terlihat pada gambar A.
Dalam system yang lebih besar akan terdapat beberapa peralatan tambahan yang tentu saja akan terdapat banyak pengaturan. Pada gambar B, terlihat system yang lebih kompleks. Dan ini adalah yang biasa diterapkan bagi kafe, pub, bar, atau club yang menampilkan musik live dan ber-area tidak terlalu luas.
Dala system ini ada beberapa prinsip lagi yang sebaiknya diperhatikan seperti :
1. Posisi mixing console sbaiknya berada pada posisi pendengar, agar apa yang didengar oleh penata suara adalah apa yang didengar oleh audiens. Denga kata lain mixer tidak berada di samping atau di belakang panggung.
2. Semua microphone dan alat musik dikirim ke mixer melalui kabel snake.
3. Mixer atau mixing console pada system ini lebih lengkap dari system yang sederhana sebelumnya, karena memiliki lebih banyak pengaturan walaupun dengan prinsip kerja yang sama. Hanya saja dilengkapi fasilitas seperti equalizer yang semi parameric, dengan 3 band (low, mid, hi) atau 4 band (low, lo-mid, hi-mid, hi). Terdapat juga auxiliary send yang difungsikan untuk mengirim signal ke system monitor dan/ ke effect system. Pada auxiliary terdapat switch untuk aux pre/post. Auxiliary pre adalah untuk menirim signal yang terlepas dari pengaruh fader dan eq kanal yang biasa digunakan untuk mengirim signal ke monitor, sedang auxiliary post adalah sebaliknya yakni mengirim signal yang dikirim mengikuti pengaruh dari fader dan equalizer dari kanal dan biasa untuk mengirim signal ke perangkat effect.
4. Signal keluaran dari mixer dikirim ke crossover melewati equalizer. Pada equalizer inilah penata suara melakukan pen-settingan untuk mengatasi kendala akustik ruang, feedback atau kendala lainnya yang mengganggu.
5. Crossover berfungsi untuk memilah frekuensi yang akan dikirim ke power amplifier untuk menggerakkan loudspeaker dengan tnggapan frekuensi tertentu. Karena system speaker utamanaya tidak jarang yang terpisah antara speaker untuk menghandle frekuensi rendah (sub woofer) dan speaker untuk full range (gambar C)

Tipical system untuk Touring
Berikutnya adalah system untuk touring yang lebih besar dan kompleks. Seperti yang dipergunakan untuk konser-konser besar dengan area yang lebih luas. Pada system ini peralatan yang digunakan sangat banyak, dan selalu dngan crossover aktif yang tidak jarang juga digantikan oleh controller digital yang didalamnya telah terdapat crossover, limiter, parametric eq, dll. Juga selalu menggunakan mixer monitor yang sama sekali terpisah dari mixer utama, lebih difungsikan untuk mengirim signal ke rangkaian effect yang tidak sedikit jumlahnya.
Namun seberapapun rumitnya prinsip touring ini, tetap tidak terlalu jauh berbeda dengan prinsip tata suara sebelumnya sehingga tidak terlalu sulit juga untuk dipahami. Hanya saja pada system ini terdapat beberapa lagi penjlasan tambahan seperti :
1. Mixer selalulebih besar dan mempunyai fasilitas yang lebih lengkap, paling sedikit terdiri dari 24 kanal atau bahkan sampai 40. dan bukan tidak mungkin menggunakan lebih dari 1 mixer. Ini sering terjadi bila yang tampil lebih dari 1 grup musik yang settingan kanalnya tidak ingin terganggu oleh setting kelompok lain yang kebetulan tampil satu panggung.
2. System monitor dioperasikan oleh monitor engineer dengan menggunakan mixer monitor sendiri dan terlepas sama sekali dari mixer utama.
3. Dalam rack peralatannya terdapat paling sedikit 2 buah EQ mono atau sebuah dual EQ (karena selalu main dalam stereo), kemudian beberapa compressor, limiter, noise gate, aural exciter, multiple delay, reverb, dll. Sekian banyak peralatan tersebut difungsikan untuk menghasilkan suara yang diinginkan dan meredam suara-suara yang tidak diinginkan.
4. Mixer untuk system monitor panggung terdiri dari 6 output kadang bahkan sampai 16 output, dan mengirim signal tadi secara tepisah ke masing-masing monitor untuk si pemusik atau penyanyi seperti yang mereka inginkan.
5. Dibutuhkan sangat banyak kabel, power amlifier dan daya listrik yang sangat besar untuk menggerakkan sekian banyak loudspeaker yang mungkin saja main dalam 3way, 4way atau bahkan sampai 5way.

Seperti yang telah dilihat bersama, banyak persamaan dari mulai system yang paling sederhana samapi system yang paling rumit sekalipun, hanya rack peralatannya saja yang mengalami perbedaan, namun tetap saja dalam prinsip yang sama. Mixer tetap saja sama apakah 4kanal atau 40kanal.



Lanjutan

Seorang sound engenering, sebelum melakukan instalasi perangkat sound sistem, dia harus mengetahui jenis pertunjukan yang akan dilakukan, tempat yang akan digunakan, lingkungan tempat dimana akan berlangsungnya pertunjukan, dan kapasitas penonton. Hal ini wajib diketahui karena dari hal ini akan memberikan gambaran kejadian pertunjukan seperti apa dan bagaimana yang akan berlangsung. Gambaran dari kejadian yang akan datang tersebut, akan memudahkan untuk menyusun rencana peralatan yang akan dipergunakan, sistem dan seting peralatan yang akan dipergunakan.

Kita bahas dahulu tentang jenis pertunjukan. Seperti yang kita tahu, bahwa pada saat ini terdapat berbagai macam jenis pertunjukan. Jenis-jenis pertunjukan tersebut akan berakibat pada perangkat alat dan instalasi yang berbeda. Misalnya pertunjukan band yang berskala kecil akan berbeda dengan pertunjukan band dengan skala yang lebih besar. Pada pertunjukan seni karawitan Bali akan berbeda dengan perangkat yang dibutuhkan untuk pertunjukan DJ. Jadi masing-masing jenis pertunjukan akan berkorelasi dengan perangkat yang dipergunakan.

Tempat dan lingkungan tempat pertunjukan jelas akan sangat mempengaruhi pada perangkat dan sistem setting perangkat. Tempat diselenggarakannya sebuah pertunjukan harus dipertimbangkan dengan matang. Apakah sebuah pertunjukan akan dilaksanakan di tempat tertutup (indoor) ataukah di tempat terbuka (outdoor). Pada pertunjukan di dalam ruangan harus diperhatikan pula apakah tempat tersebut bergema ataukah tidak. Dalam hal ini harus diperhatikan apakah akustik dari ruangan tersebut baik atau hanya dinding tembok dan langit-langit dari triplek atau gypsum. Luas ruangan yang dipergunakan mempengaruhi pula pada sistem setting dan perangkat yang akan dipergunakan.

Tempat dan lingkungan pada pertunjukan di tempat terbuka harus pula diperhitungkan. Apakah sebuah pertunjukan akan dilangsungkan pada lapangan terbuka seperti pada lapangan sepak bola yang luas, di taman yang sempit, ataukah ditempat yang luas dengan tebing-tebing menjulang seperti di GWK. Factor kesulitan pada lapangan sepak bola, taman yang kecil akan berbeda dengan pertunjukan yang sering dilakukan di GWK. Faktor kesulitan sistem setting peralatan di GWK dengan tebing-tebing kapur menjulang jauh lebih sulit dibandingkan dengan lapangan terbuka biasa. Banyak para sound engenering mengakalinya dengan membentang tirai-tirai untuk mengurangi pantulan suara yang disebabkan oleh dinding-dinding tersebut.

Di samping dua hal di atas yang harus diperhatikan pula oleh seorang sound engenering adalah penonton/pengunjung yang akan menghadiri sebuah pertunjukan. Jumlah pengunjung yang puluhan, ratusan, dan bahkan ribuan akan mempengaruhi besarnya perangkat yang akan dipergunakan. Perlu diketahui bahwa tubuh manusia dapat menyerap getaran-getaran gelombang suara. Berikut digambarkan sistem jaringan/skema untuk instalasi sound sistem dengan 3 pertimbangan di atas yang diambil dari www.yamaha.com seperti berikut.

Skema Sound 500 orang lebihPertunjukan dengan jumlah pengunjung antara 500 – 1000 orang pada sebuah lapangan terbuka yang luas, sebagai salah satu pilihan adalah akan dipergunakan peralatan dan skema berikut.

Mirophone 24

Mixer MG32/14FX 1

Power Amp P5000S 4

Power Amp P7000S 1

Speaker S215V (C215V) 4

Woofer SW218V (CW218V) 2

Monitor Speaker SM15V (CM15V) 4

Graphic EQ Q2031B 2

Digital Multi Effects SPX2000 1

Kabel instrumen yang baik dan konstruksinya

Kabel instrumen yang baik dan konstruksinya

Sumber : Majalah bulanan AudiPro Edisi 02/th.V/Februari 2004

Kalau mixer bisa diumpamakan sebagai jantung sebuah sistem, maka kabel bisa diibaratkan sebagai urat nadinya. Buruknya kualitas kabel akan menurunkan kulitas audio bagi keseluruhan sistem itu.

Tak ada yang bisa menampik bagaimana pentingnya fungsi perkabelan dalam sebuah sistem audio. Berbagai sound company besar pasti sudah sangat memahami hal tersebut.

Sebuah kabel instrumen yang baik haruslah bisa menampilkan soudstage yang deep dan image yang tinggi, dengan resolusi yang tinggi, detail, timbre yang sangat super, tonal balance natural dan sangat netral. Kabel-kabel ii tidak tonally colored, dan bisa kompatibel dengan banyak sistem aplifier, speaker maupun pre-amp. Kita ketahui banyak desain kabel konvensional mempunyai tampilan yang bagus secara fisik, tapi tidak bertahan lama, karena menggunakan konduktor tipis. Kekurangan umu kabel jenis ini adalah lemahnya image fokus dan resolusinya. Beberapa kabel ini memang men-kombinasikan resolusi tinggi dari informai, transparansi dan image fokus tiga dimensi dengan tonal balans yang netral dan warm.

Konstruksi bagian dalam kabel
Komponen
Disini kita akan mengenal konfigurasi koaksial (co-axial) dan twin axial. Koaksial, konfigurasi ini biasa digunakan untuk kabel instrumen unbalans. Didalamnya terdapat konduktor (penghantar sinyal) tengah atau center conductor. Bertugas membawa sinyal atau arus listrik dari perangkat sumber (source) dan disekat oleh bahan insulasi yang memisahkan konduktor tadi dari bagian lain dalm kabel, yakni shield (perisai). Shield ini sebenarnya juga merupakan konduktor, tetapi berupa konduktor pengembali arus listrik atau sinyal untuk melngkapi arus yang masuk ke sebuah sirkuit.
Ketiga komponen tadi (konduktor, sekat dan shield) dilengkapi dengan dua senjata, berupa sebuah perisai elektrostatis yang berfungsi untuk mengurangi tingkat handling noise. Lalu pelindung luar / outer jacket untuk memproteksi kabel terhadap “dunia luar”, sekaligus digunakan untuk mempercantik tampilan kabel.

Koaksial VS Twin Koaksial
Beda sebuah kabel koaksial dan twin koaksial, koaksial menggunakan sebuah konduktor yang terisolasi di bagian tengahnya untuk membawa voltase sinyal sama seperti yang ada pada shield. Di sini shield terhubung ke kontak “negatif” dari plug di kedua ujungnya, sedangkan konduktor di tengah menghubungkan kontak “negatif”. Karena sinyal audio analog adalah arus bolak-balik (alternate current), maka volatse sinyal positif dan negatif bergonta-ganti di tengah konduktor dan shield.

Sedangkan kabel twin koaksial (twin-ax) punya dua konduktor terisolasi dari voltase sinyal yang dikelilingi oleh sebuah shield yang terpisah. Dalam hal ini, shield ditempelkan ke salah satu ujung kabel dan bertindak sebagai konduktor “negatif”. Shield ini didesain untuk memblokir interfensi yang masuk ke konduktor dengan membawa sinyal audio, sekaligus untuk membawa interfensi (hnya) ke sasis ground dari perangkat yang sedang digunakan. Desain twin-ax umumnya lebih banyak memakan biaya ketimbang koaksial. Khususnya saat proses pembersihan jalur sinyal untuk audio, dan untuk menghindari adanya ground loops.

Hubungan antar bahan-bahan didalam kabel
Geometris
Merujuk kepada hubungan antara konduktor dan lapisan perisai atau pelindungnya (baca:shield). Geometris yang berbeda akan berpengaruh kepada karakteristik elektrikal dan shielding dari sebuah kabel, yang pada akhirnya berpengaruh kepada tmpilan suara. Ada dua pendekatan dalam hal desain yang bisa dilakukan terhadap keseluruhan geometris untuk kabel instrumen, yakni desain co-axial dan twin-axial.
Shield bertanggung jawab membawa setengah dari sinyal audio. Maka mau tak mau, shield ini harus mampu menjaga konduktor kabel dari kemungkinan adanya interfensi ke luar dari jalur sinyal perangkat (seperti amplifier atau console), yakni ke ground.

Geometri konduktor
Dalam sebuah design twin-ax, pola hubungan antar konduktor dan shield akan mempengaruhi karakteristik elektrikal sebuah kabel. Untuk tampilan kabel, karakteristik yang paling relevan berhubungan dengan kedua faktor diatas adalah kapasitansi dan induktansi. Efek dari kapasitansi ini bisa terdengar jelas dalam sebuah kabel instrumen. Kapasitansi ini seringkali diukur dngan satuan Pico farad per kaki dari sebuah kabel. Dari dua konduktor dalam sebuah kabel dipararelkan, kabel ini akan punya induktansi tinggi yang relatif dan kapasitansi rendah, serta lebih bisa mem-pick up interfensi. Konduktor jenis braid cenderung menampilkan kapasitansi tinggi dengan induktansi yang lebih rendah dan rentan terhadap noise.

Shield
Dalam kabel instrumen terletak di bawah jacket bagian luar dn disekitar konduktor sinyal yang biasanya berupa sebuah foil, braid atau kombinasi keduanya. Sebuah shild foil punya daya proteksi yang baik terhadap interfensi frekuensi tinggi, seperti RFI (Radio Frekuensi Interference).
Shield braid dikenal lebih efektif terhadap semua bentuk interference yang kini ada, jika shield ini di-woven dengan densitas yang cukup. Shield ini menggunakan banyak bahan tembaga.
Sebuah shield spiral bisa memiliki densitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan shield braided, tetapi kurang fleksibel dibandingkan braid. Shild spiral ini bisa membka dan menyediakan sebuah jalur untuk interfensi, jika kabel ini terlalu sering dilenturkan atau lekukkan. Carilah kabel yang memakai sebuah shild braided (atai kombinasi braid dan foil) dengan cakupan densitas minimal sekitar 85%.

Insulation
Punya pengaruh langsung terhadap fleksibilitas sebuah kabel, khusunya untuk pemakaian dan ukuran tebal tipisnya bahan. Sebuah konduktor beinsulas, sebenarnya punya karakter yang tidak ubahnya seperti sebuah konduktor padat. Kian tipis insulation, kian fleksibel kabel tersebut.
Ada kriteria elektrikal untuk ketipisan insulation ini. Dinamakan “Dielectric Strength”, dan tingkatannya ditentukan oleh voltase kerja dari kabel. Voltase yang ada dalm penggunaan kabel instrumen umumnya sangat rendah, sehingga tingkat dielectric strength yang dibutuhkan untuk mencegah agar insulation tidak anjlok sangatlah kecil.
Ada satu faktor yang perlu dipertimbangkan, ketika kabel akan digunakan untuk instrumen seperti gitar elektrik, yakni jumlah kapasitansi antara konduktor tengah (center conductor) dengan shield.
Mengenai bahan insulation, pada intinya ada empat bahan insolator yang kita kenal untuk konduktor dalam sebuah kabel instrumen. Bisa disebutkan disini, sesuai dengan urutan tingkat tampilan dan harga yang lebih tinggi, yakni PVC, polypropylene, polythylene dan teflon. Bahan-bahan ini bisa juga di”foam” atau diinjeksi dengan udara untuk meminimalkan efek buruknya terhadap sinyal, selagi sinyal ini disimpan atau dikeluarkan.
Proses insultasi Thermoplastic dikenal lebih ekoomis, tetapi perlu berhati-hati dalam proses produksinya. Hal ini karena proses pemanasannya tidak boleh kelebihan panas (overheated), khususnya penyolderan saat mengisolasi konduktor.

Bahan konduktor
Tembaga ah (copper) adalah bahan konduktor yang sangat baik, walaupun tidak semua tembaga punya kualitas yang sama seperti bahan konduktor. Copper ini digunakan dalam kabel berkualitas baik, dengan level mulai dari yang bebas oksigen hingga “7N”. Tipe tembaga ini bervariasi dalam tingkat kemurniannya yang kemudian disebut sebagai tingkat prosentase dari copper. Di bagian akhir dari spectrum ini adalah copper “7N” yang berarti “seven nine”, setelah point desimal dalam nilai kemurniannya, yakni murni 99,9999999%.
Sedangkan bahan yang digunakan untuk center conductor bisa saja dibuat dari bahan thermoset, yakni kare, neoprene, dan hypalon. Bisa juga dari bahan yang sifatnya thermoplastic, yakni polyethylene, polypropylene, PVC, dan FPE.
Perak atau silver juga merupakan konduktor yang baik, tetapi pebedaan subjektif di dalam perak yang dibuat oleh pabrikan, seringkali lebih besar dibandingkan dengan perbedaan tembaga. Carilah kabel yang menggunakan sebuah konduktor tembaga OFHC minimum, dan cobalah tiap kabel yang menggunakan konduktor tembaga bersepuh keperakan, sebelum anda membeli.

Desain konduktor
Sumber lain distorsi dalam kabel adalah interaksi yang muncul dari helai-helai (strand) konduktor dalam kabel. Helai-helai ini dibuat demi menambah fleksibilitas dalam kabel. Tetapi tiap helai dalam sebuah ikatan akan membawa sinyal audio yang sama dngan helai di sebelahnya. Akan timbul masalah, arus listrik yang berjlan dlam helai tersebut akan membentuk sebuah medan magnetik., menyebabkan sinyal yang dibawanya berubah. Kian banyak helai yang dimilkiki oleh sebuah konduktor, akan semakin buruk masalah yang timbul.

Kapasitansi
Merupakan faktor yang menarik dalam sebuah kabel. Kapasitansi adalah tingkat kemampuan sebuah beban listrik. Dalam sebuah kabel instrumen, kapasitansi antara center conductor dan shield, dinyatakan dalam satuan per foot (pF / ft). Dimana kian rendah nilainya, maka berindikasi pada kian rendahnya juga kapasitansi. Bila dikombinasikan dengan impedansi sumber, kapasitansi kabel bisa membentuk sebuah low-pass filter antara instrumen dan amplifier, yang bisa memotong high frekuensi yang setingkat dengan cara memotong tone control instrumen.
Dengan melihat bahwa keseluruhan diameter luar dari kabel dibatasi oleh plug yang harus digunakan, kapasitansi kabel benar-benar merupakan refleksi kombiasi antara ukuran konduktor (kekuatan konduktor), bahan insulation (biaya), dan ketipisan insulation (ukuran dan fleksibilitas). Istilah “Dielectric constant” disini sering digunakan untuk melihat kualitas bahan insulation. Tentu ini akhirnya akan menentukan clarity suara.


Kesimpulan
Belum adanya kabel yang benar-benar sempurna / bisa meningkatkan suara dari perangkat kita. Yang ada hanyalah kabel yang bisa menjaga sinyal audio dari hal-hal yang bisa mengurangi kemurniannya.





Anatomi Kabel

Anatomi Kabel

Sumber :
Majalah bulanan Audiopro edisi 04/th.VII/04 April 2006-04 Mei 2006


speaker EAW MK series untuk full range-nya & EAW 250z untuk sub-nya. Mixer-nya Allen & Heath GL 2200, LMS ( Loudspeaker management System ) – nya XTA 622. Power-nya ? Crest Audio Pro series Great!

SUARANYA KOK KASAR YA ?
“Mana mungkin kualitas suara dari sistem seperti itu tidak enak..” Apa yang harus saya perbaiki ? Karena itu salah satu speaker terbaik yang harganya juga tidak murah. Mereka menjawab, “ Coba saja anda dengar sendiri. Kami juga tidak tau apa yang salah. Hanya saja, kami merasa ada sesuatu yang tidak enak.” Setelah saya menyalakan CD dan mengeluarkan suaranya, saya herus percaya. Ada apa yg salah ? Mereknya ? pasti tidak! Untuk mencari sumber permasalahan suatu sistem instalasi saya tidak pernah lupa menengok ke belakang rak. Belakang raknya kebetulan sangat rapi tetapi kabel yang mrk gunakan ternyata tidak sesuai dengan suara yang seharusnya di hasilkan oleh speaker. Mengapa demikian ? karena masih banyak org yang masih belum paham betul mengenai kabel, bagaimana anatominya, bagaimana penggunaannya di lapangan, atau mungkin juga sering kali org menganggap sepele masalah kabel.

MENGAPA KABEL MENJADI BEGITU PENTING ?
Banyak org akan berkomentar, “Ah kabel, apa gunanya sih? Pakai saja yg murah, toh tetap keluar suara. Kalau alat kita bagus, buat apa harus beli kabel yg mahal lagi ? Saya beri catatan sedikit. Kabel berperan penting dalam menyalurkan sinyal audio dari alat ke alat tak ubahnya seperti pembuluh darah di dalam tubuh manusia. Ada org yang tampak sehat dari luar dan berpenampilan menarik, tetapi ternyata di dalam tubuhnya seluruh pembuluh darahnya tersumbat. Pasti tak lama lagi org itu akan mengalami serangan jantung. Karena sesuatu yang tidak seimbang, akan menghasilkan yang tidak benar pula. Begitu juga dengan sistem audio. System yang mahal, tidak akan menghasilkan performa audio yang semestinya bila tidak menggunakan kabel yang sesuai. Apakah itu ukurannya, jenisnya, bahkan hingga bagaimana cara org menyambungkannya ( menyoldernya ).

JENIS KABEL
Kabel untuk sistem audio tidak sesederhana yang kita pikirkan. Banyak jenis, ragam, dan penggunaannya. Untuk menyambungkan mikrofon saja, terdapat banyak jenis kabel. Sangat jarang orang yang menetahui dan mempelajarinya. Untuk itu, marilah kita bahas bersama perihal kabel-kabel ini.

KABEL MIKROFON
Kabel untuk mikrofon terdiri dari dua jenis. Begitu juga dengan kabel balance, yaitu kabel mikrofon standar terdiri atas tiga kabel, yaitu shield ( ground/pelindung ), kabel untuk kutub positif, dan kabel untuk kutub negatif. Sedangkan di dalam kabel mikrofon quad berisi lima kabel, yakni shield, dua kabel untuk kutub positif dan dua kabel kutub negatif.
Kabel mikcrofon standard dari canare, seperti L2-T2S,terdiri atad dua kabel dalam yang berwarna biru putih. Isi kedua kabel tersebut masing-masing terdiri dari 60 kawat tipis. Kedua kabel itu dibungkus dengan rajutan kawat yang cukup rapat, berfungsi menolak noise dari luar. Kabel tipe ini sangat fleksibel dan kuat. Lapisan plastik pembungkus luar kabel terbuatdari PVC ( Polivinyl Chlorida ). Demikian pula untuk pembungkus ke dua kabel bagian dalamnya.
Bagi yang baru belajar menyolder kabel, kabel ini cukub baik dan tahan panas. Sehingga, tidak perlu khawatir lapisan kabel tersebut meleleh karena terlalu lama menempalkan solderan. Tapi jika terlalu lama, tetap akan meleleh juga. Selain itu, kabel balance atau kabel mikrofon diberi tambahan benang – benang katun sebagai filter/ pengisi dan penguat kabel.. Kabel mikrofon quad dibuat untuk digunakan pada lingkungan yang cukup tinggi noise. Harga kabel ini lebih dari kabel mikrofon standar, tetapi memiliki daya tolak noise yang lebih besar saat kabel ditarik cukup panjang. Noise timbul sebagai akibat dari induksi di antara kabel positif dan kabel negatif itu sendiri. Oleh karena bentuknya yang yang quad, induksi tersebut dapat hilang dengan sendirinya. Ditambah lagi diameter kabel positif dan kabel negatif menjadi lebih besar. Kabel ini dapat kita manfaatkan untuk rentangan hingga mencapai panjang 100 m dengan hanya sedikit penuturan kualitas.
Untuk kabel mikrofon dalam bentuk kabel snake, bentuknya mirip dengan beberapa kabel mikrofon yang kita gabungkan dan diberi bungkus kembali. Kabel snake ada yang ditujukan untuk penggunaan mobile dan instalasi secara permanen. Perbedaan mendasar ke dua kabel itu sebagai berikut.

1.KABEL BALANCE UNTUK INSTALASI
Kabel balance untuk instalasi tidak berbeda jauh dari kabel mikrofon dalam bentuk, ukuran dan isi bagian dalamnya. Yang membedakannya hanyalah pembuat bungkus luar kabel yang lebih keras dan pelindungnya (sheilding) berupa aluminium foil. Pada kabel ini biasanya kabel untuk ground di buat tersendiri dalam bentuk kawat yang dililit. Mengapa digunakan aluminium foil? Jawabanya, kabel ditujukan untuk mampu menolak pengaruh gelombang magnetik dan gelombang radio hingga mencapai 100%. Sedangkan pada kabel mikrofon biasa hanya dijamin mencapai 94% saja.
Selain itu, agar kabel-kabel ini kuat menahan gaya tarik saat instalasi sedang berlangsung, ditambahkan serat-serat penguat seperti pada Canare L4-E6AT dan Canare L4-E5AT. Serat-serat penguat tersebut terbuat dari kevlar yang sanggup menahan gaya tarik yang cukup besar.
Kabel snake untuk instalasi mirip dengan kabel balance instalasi yang kita gabungkan. Perbedaannya dengan kabel snake untuk mobile hanya pada sheid-nya yang menggunakan aluminium foil, sedangkan pada kabel snake mobile menggunakan rajutan kawat.

2. KABEL UNBALANCE
Kabel ini sangat umum. Karena pada umumnya karena sebagian besar kabel hi-fi, kabel untuk radio, dan kabel untuk video berbentuk seperti ini yang kita sebut sebagai kabel coax. Hanya saja untuk sound, kabel jenis ini bagian tengahnya berupa serabut, bukanya solid seperti kabel untuk radio maupun video pada umumnya. Lalu pada pembungkus bagian tengahnya masih terdapat lapisan pembungkus bagian luar. Pembungkus yang terbuat dari bahan karbon itu berfungsi sebagai bahan pelindung yang bersifat konduktif. Sehingga saat kita menyoldernya harus berhati-hati agar dapat mengupas lapisan tipis tersebut.
Untuk apa kita harus membuangnya ? Alasannya, jika pelindung tipis berwarna hitam ini menyambung dengan tembaga pada bagian tengahnya, kabel yang kita solder akan mengalami gejala – gejala seperti konsleting. Kabel ini adalah kabel OFC dengan diameter 18 AWG ( American Wire Gauge ) Khusus untuk menyambungkan alat-alat unbalance. Kabel ini memiliki kapasitas dan tahanan yang rendah sehingga mampu meloloskan sinyal hingga 50 kHz. Sehingga, suara pic up gitar jadi jernih dan jelas walaupun kita menggunakan kabel unbalance dalam jarak yang cukup panjang. Kombinasi antara sheild tembaga dan lapisan karbon dapat melindungi kabel dari suara-suara noise microphonic ( noice yang sangat kecil ) yang tidak kita inginkan. Noise ini umumnya datang dari ampli instrument yang volumenya kita set besar.

3. KABEL BALANCE INTERKONEK
Kabel ini hanya merupakan bentuk penyederhanaan dari kabel mikrofon standar. Kabel ini hanya untuk tarikan jarak dekat dan tanpa beban tarikan yang cukup berat. Biasanya, kabel ini memiliki harga yang cukup murah, contohnya Belden 8760, Belden 8761 dan Canare L2-B2AT. Isi kabel juga tanpa dilengkapi dengan filter atau benang pengisi dan penguat kabel.

4. KABEL SPEAKER
Beberapa orang menganggap kabel speaker amat tidak penting. Diganti dengan kabel listrik, pasti juga menyala. Kabel speaker justru memiliki tahanan yang cukup besar sehingga bahan pembuatnya harus benar – benar tembaga murni. Karena arus mengalir pada kabel speaker adalah arus AC atau sama dengan listrik seperti pada colokan listrik kita. Hanya saja, arus yang mengalir di dalam kabel ini tidak konstan dan memiliki dinamika. Berbeda dengan speaker Toa atau ceilling speaker di supermarket yang menggunakan arus konstan sehingga bisa dikirim jauh tanpa distorsi.
Dari tabel dibawah ini, bisa dibaca berapa banyak pengurangan sinyal jika menarik kabel speaker Canare sepanjang yang kita inginkan. Kita juga tidak boleh melupakan apa yang akan terjadi kalau menarik kabel speaker dengan jarak yang panjang
Untuk memudahkan penghitungan, Canare telah membuatkan tabel yang kurang lebih dapat kita gunakan sebagai patokan ketika menarik kabel speaker. Tabel tersebut sebagai berikut.
Semua nilai dihitung berdasarkan asumsi output power amplifier pada 0,05 ohm. DF 20 adalah damping factor hanya untuk penggunaan pidato, sedangkan DF 50 adalah nilai yang dibutuhkan untuk musik dengan band lengkap. Jadi, damping faktor akan ditentukan oleh bentuk dan panjang kabel speaker.

MATERIAL PEMBUAT KABEL
Bahan – bahan penyusun kabel merupakan komponen penting yang membuat suara yang dihasilkan bisa berbeda satu sama lain. Bahan utama sebuah kabel adalah tembaga. Tapi umumnya tembaga yg tersedia tidak murni. Kesulitan yang akan timbul dari tembaga tak murni adalah, mudah teroksidasi jika mendapat kontak dengan udara.
Untuk menghindarinya, beberapa pabrik pembuat kabel memberi label OFC atau Oxygen Free Cable. Maknanya kabel itu memiliki pembungkus yang sangat baik sehingga oksigen tidak dapat masuk sampai ke bagian tengah kabel. Pernah melihat kabel speaker yang sudah berumur satu tahun dan berwarna hitam agak kehijauan, itulah tandanya oksigen dapat masuk ke bagian tengah kabel.
Untuk menghindari oksidasi, pabrik lainnya melapisi tembaga dengan seng. Namun suara yang dihasilkan sangat tajam dengan ton rendah yang kurang solid. Tapi anehnya, kabel seperti ini memperkuat sinyal secara keseluruhan. Sehingga, ketika kita membaca meter yg ada di mixer, sinyal bisa naik hampir 20 % dibandingkan dengan kabel tembaga murni. Contoh kabel mikrofon yang berlapis seng antara lain : Klotz Quad SQ422, Belden 8760, dan Belden 8761. Sedangkan untuk kabel speaker, Belden 8470. Mingkin ini hanya pengalaman saya saja di lapangan, tapi saya anjurkan para pembaca untuk mencobanya sendiri. Mengenai selera suara, saya serahkan kepada selera para pembaca masing-masing.

Mengapa kabel teroksidasi ?
Tanda-tanda kabel yang teroksidasi adalah berwarna kehitaman atau kecoklat-coklatan. Jika kabel sudah teroksidasi, suara yang dihasilkan akan buruk. Selain itu, oksidasi perlu diwaspadai karena kemampuan kontaknya menurun dan mengakibatkan arus yang melompat seperti konsleting. Hal itu terjadi karena bagian kontak dari kabel terlapisi oleh permukaan kabel yang telah teroksidasi sehingga seolah – olah kabel tidak menempel dengan benar.